Sekilas Sejarah DKS

Untuk menyegarkan ingatan kita, berikut tulisan Suparto Brata seputar Sejarah Dewan Kesenian Surabaya. Dari tulisan di bawah ini, apabila ada rekan-rekan yang ingin menambahkan data maupun informasi tambahan, kami persilahkan.

Pada tgl 14 September 1971 Walikota Surabaya Sukotjo mengundang para seniman Surabaya untuk berkumpul di ruang sidang kantor Walikota Surabaya. Undangan itu pelaksanaannya diserahkan kepada seniman-seniman yang berdekatan dengan Walikota, yakni yang pada bulan Februari 1971 ikut terkirim sebagai official/produser pementasan drama “Suara-suara Mati” ke Jakarta. Seperti diketahui dalam pementasan Drama 4 Kota di Jakarta, Pemerintah Kotamadya Surabaya ikut menjadi sponsor dengan mengirimkan drama “Suara-suara Mati”. Beranjak dari hubungan itu, maka Walikota meneruskan gagasannya untuk “menyegarkan” kehidupan seniman-seniman Surabaya, di lain pihak para seniman yang telah terkirim ke Jakarta itu banyak membawa oleh-oleh tentang tata kehidupan seniman Jakarta dan hubungannya dengan Pemerintah DKI Jakarta.

Pada malam peresmian tgl. 14-9-1971 itu, Walikota sekali lagi membeberkan gagasannya akan memberikan bantuannya kepada para seniman. Sekali ini tidak berupa kanvas, atau cat, atau mesin ketik dan semacamnya yang diperlukan seniman dalam menggarap karyanya, tetapi lebih menyeluruh: sebuah gedung kesenian (Balai Pemuda) yang sedang dibangun.

Pak Kotjo dengan bantuan itu mengharap seniman-seniman bisa “mengurus dirinya” sendiri, dan tidak menghendaki adanya main politik-politikan dalam mengurus diri itu. Para seniman sekali ini diundang untuk melaksanakan bagaimana mengaturnya agar nantinya bantuan Walikota itu tidak sia-sia atau kapiran, sedangkan para seniman menerimanya dengan perasaan senang, tidak merasa diperlakukan tidak adil, saling sikut-sikutan, irihati dan jangan ada yang menggunakan kesempatan ini untuk “tempat mencari nafkah” perorangan.

Para seniman dekat Walikota cukup bijaksana dalam mengedarkan undangan. Selain undangan-undangan yang dikirimkan kepada seniman-seniman yang mereka kenal, nama dan alamatnya, diberitakan juga di koran-koran, sehingga bagi mereka yang merasa dirinya seniman bisa datang menghadiri pertemuan itu. Untuk menertibkan, maka sebelum hadir mereka diwajibkan mendaftarkan namanya dan pada bidang seni apa mereka melakukan kegiatan.

Lebih dari itu, seniman yang dekat Walikota itu memberikan “guiding” bagaimana kira-kira “wadah” yang digunakan para seniman nanti untuk menerima “bantuan” Walikota itu. “Guiding” yang berupa konsep “wadah” itu disusun oleh Drs. Putro Sumantono, Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Amang Rachman dan Sanyoto Suwito. Mereka ini disebut pemrakarsa dalam konvensi seniman (untuk membedakan dengan musyawarah atau pertemuan-pertemuan seniman yang sudah beberapa kali diadakan, maka kita sebut saja peristiwa ini konvensi).

Di luar dugaan, ternyata di antara para hadirin juga ada yang menyiapkan konsep-konsep terperinci. Hal ini menjadi karena memang kepada mereka diminta sumbangan-sumbangan pikiran. Kericuhan terjadi karena sepintas lalu terdapat perbedaan landasan yang prinsipiil. Para seniman “undangan” terutama pada “paper” yang dibacakan oleh Gatut Kusumo, melandaskan diri bahwa seniman itu harus bebas, tidak terikat, jangan pemerintah ikut mendikte dalam mengerjakan karya-karyanya, sedang “konsep” pemrakarsa menyadari bahwa “wadah” yang bakal dibentuk itu adalah karena niat Pemerintah (Walikota) memberikan “bantuan”.

Karena itu “wadah” tadi berfungsi menjadi “pembantu Walikota”. Karena suara hadirin bagaimanapun juga lebih kuat dari suara-suara pemrakarsa, maka diadakan pembicaraan “yok-apa-enake”, bagaimana enaknya. Malam itu mereka berhasil memilih panitya perumus yang bakal merumuskan betapa “wadah” kegiatan seniman Surabaya itu, lengkap dengan anggaran dasar dan personalianya. Panitya perumus itu terdiri dari: Wiwiek Hidayat, Karyono Js, Basuki Rachmat, Gatut Kusumo dan Agil H. Ali.

Panitya ini berkewajiban “melaporkan” hasil kerjanya pada sidang yang bakal diadakan lagi. Sidang yang kedua konvensi para seniman Surabaya itu diadakan tanggal 30 September 1971. Panitya perumus membacakan hasilnya, yaitu “wadah” itu disebut Dewan Kesenian Surabaya, lengkap dengan Anggaran Dasar dan personalia Dewan Kesenian Surabaya. Sebagai bahan pembentukan Dewan Kesenian Surabaya itu adalah: pidato sambutan Walikota (tgl. 14-9-1971), konsep pemrakarsa, paper Gatut Kusumo dan saran-saran hadirin.

Duapuluhtiga orang seniman tercatat oleh Panitya Perumus untuk menjadi anggota Dewan Kesenian, dengan masa kerja dua tahun. Tapi, oleh sidang terpilih 13 orang saja., yaitu: 1. Drs. Putro Sumantono (cendikiawan-pejabat Kota), 2.Gatut Kusumo (pelukis-cineas), 3. Amang Rachman (pelukis), 4. Agil H. Ali (wartawan), 5. Basuki Rachmat (wartawan-sastrawan), 6. Farid Dimyati (dramawan-wartawan), 7. Wiwiek Hidayat (pelukis-wartawan), 8. Krishna Mustadjab (pelukis), 9. Karyono Js (pelukis), 10. Sunarto Timur (dramawan), 11. Teguh Srimulat (pemusik-show business), 13. Hasyim Amir MA (dramawan), 13. M. Daryono (pelukis).

Terpilihnya 13 orang ini justru karena mereka malam itu hadir dan dikenal oleh sidang. Mereka itu terpilih menurut ketentuan anggaran dasar yang baru dibacakan (½ suara hadirin + 1), dan ternyata semuanya terpilih. Sedang seniman yang diajukan perumus tapi tidak tampak batang hidungnya malam itu, dicoret. Di antara yang dicoret ini terdapat nama-nama: Drs. Budi Darma (cendikiawan-pengarang), Drs. Suripan Sadi Hutomo (sastrawan), Sanyoto Suwito (dramawan), Totilowati (pengarang-wartawan).

Ketigabelas nama yang terpilih ini kemudian akan diajukan kepada Walikota untuk dimintakan persetujuan Walikota (dan diangkat dengan surat keputusan Walikota). Walikota berhak menambah/mengurangi jumlah personalia ini. Sementara itu dari Walikota Surabaya didapat kabar bahwa gedung kesenian yang sekarang sedang dibangun dan diharapkan bisa digunakan untuk menampung kegiatan-kegiatan para seniman itu, akan selesai akhir bulan Desember 1971 dengan beaya Rp 70 juta.

Ditulis: Suparto Brata Dimuat Sinar Harapan (Jakarta) Senin, 18 Oktober 1971.

Sumber : http://supartobrata.com/?p=135

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: