Home > Artikel, Seni Rupa > ISU MANAJEMEN DALAM DUNIA SENI RUPA DI INDONESIA

ISU MANAJEMEN DALAM DUNIA SENI RUPA DI INDONESIA

oleh: Yustina W. Neni

warhol

Dalam kesempatan ini, jalan masuk yang saya pilih untuk menuju ke diskusi mengenai hal pengelolaan yang lebih mendalam dalam dunia seni rupa Indonesia adalah perdagangan karya seni yang saat ini omsetnya mencapai milyaran rupiah perbulannya. Namun demikian diskusi saya ini hanya bersifat pengantar, maka setelah ditemukan hal-hal yang lebih spesifik pada semua lini, maka setiap individu yang terlibat dalam lini-lini tersebut sepatutnya bekerja sesuai kapasitasnya.

PENGELOLAAN
Pengelolaan biasanya dijalankan oleh seseorang, kelompok orang, atau perusahaan, karena ada tujuan yang ingin dicapai. Contoh, tujuan perseorangan misalnya kaya, punya toko, lulus lebih cepat, naik haji pada usia muda, punya motor, dlsb. Contoh tujuan kelompok, misalnya warga kampung padat hunian memiliki MCK (Mandi Cuci Kakus) yang bersih dan sehat, memiliki resapan air hujan bersama. Semakin rumit tujuan seseorang, kelompok orang, atau perusahaan maka usaha-usaha pengelolaan dalam rangka mencapai tujuan juga lebih rumit dan waktu dalam mencapai tujuan itu juga akan ikut terpengaruh. Salah satu bentuk usaha pengelolaan dalam rangka mencapai tujuan adalah penyertaan aktivitas tambahan, misal menabung, belajar lebih giat, bekerja paruh waktu setelah selesai kuliah, menambah modal usaha, efisensi waktu bekerja, melakukan spesialisasi pekerjaan, dll.

TUJUAN EKONOMI
Beberapa diskusi yang telah terjadi, baik itu bersifat formal atau non formal, rata-rata menggaris bawahi kata /Indonesia/ dengan mempertanyakan “Indonesia yang mana dulu?”. Kali ini, saya tidak mempersoalkannya. Bagi saya mau Indonesia yang di bagian mana saja, ketika membicarakan tentang pengelolaan maka kata /tujuan/ tetap lebih dahulu harus ditanyakan. Bagi para seniman: “apa tujuanmu berkarya?”, bagi para pemilik galeri: “apa tujuanmu mendirikan galeri?”, bagi para kolektor karya seni: “apa tujuanmu mengoleksi karya seni”, bagi pengajar seni: “apa tujuanmu mengajar”, bagi para pedagang karya seni: “apa tujuanmu menjual beli karya seni?”, bagi para dermawan: “apa tujuanmu mendermakan uangmu untuk karya seni?”, bagi para penyelenggara even kesenian: “apa tujuanmu menyelenggarakan even ini atau itu?”, dll. Pertanyaan ini sebaiknya dijawab dulu oleh siapa saja yang terlibat dalam dunia seni rupa di wilayah manapun di Indonesia, dengan demikian, selanjutnya kita melihat bagaimana pengelolaan yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Jawaban orang-orang itu akan menggambarkan nilai-nilai sosial ekonomi yang diikuti oleh orang-orang itu, ketika itu. Jawaban yang bersifat kebendaan seperti saya ingin punya rumah, saya ingin punya mobil, saya ingin punya uang banyak, saya ingin keluarga saya lebih sejahtera dari saya dulu, saya ingin membantu orang tua, adik saya banyak orang tua saya miskin, dll, menggambarkan bahwa bekerja adalah usaha untuk mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian pola hidup keseharian orang-orang itu adalah sederhana untuk tujuan bertahan hidup. Ciri dominan golongan ini adalah menjalankan pekerjaannya secara berulang-ulang dan sama. Secara ekonomi tujuan orang-orang itu sederhana dan tidak membutuhkan pengelolaan yang rumit juga.

Berkarya seni = bekerja
Di dalam dunia seni rupa ketika berkarya dianggap sebagai kegiatan ekonomi maka karya yang dihasilkan disebut sebagai produk ekonomi, bernilai tukar dan bisa diperjualbelikan, menghasilkan laba, direproduksi secara terus menerus, dll. Di lain pihak, dunia usaha cenderung lebih membutuhkan praktisi ketimbang teoritisi (baca: kritikus, sejarawan seni), outputnya bisa segera tampak, yaitu: hasil produksi yang seragam karena reproduksi yang sama, terus-menerus, atau peniruan sebagai konsekuensi atas permintaan pasar. Produksi (supplay) akan terus-menerus terjadi dan harga akan naik ketika permintaannya tetap tinggi. Kemudian proses peniruan dan atau proses reproduksi tidak terbatas pada produknya tetapi juga pola proses transaksi jual belinya. Pengelolaan dengan tujuan ekonomi dalam dunia seni rupa, telah sangat menguntungkan. Situasi ini akan memunculkan spekulasi karena penyandang dana tidak mau kehilangan keuntungan atas investasi yang telah ditanamkan. Keinginan utama dari investor adalah meminimalkan risiko dan meningkatkan perolehan. Asumsi umum bahwa investor individu yang rasional adalah seorang yang tidak menyukai risiko, maka investasi yang berisiko harus dapat menawarkan tingkat perolehan yang tinggi, oleh karena itu investor sangat membutuhkan informasi mengenai risiko dan pengembalian yang diinginkan. Dalam situasi ini maka maraknya lelang karya seni menjadi peristiwa yang logis sebagai alat penyedia informasi mengenai harga-harga. Namun informasi yang disediakan sekaligus menjadi pisau bermata dua bagi lapisan yang mengalami pencerahan kedua atau selanjutnya. Masalah yang terjadi adalah kegagapan kelas. Karena investor kedua atau yang selanjutnya itu, sebenarnya adalah pasar bagi investor yang telah maju lebih dahulu. Peristiwa ini terjadi karena tidak adanya kesadaran akan perbedaan nilai-nilai sosial dan ekonomi pada lapisan-lapisan yang berbeda. Istilah trendinya “culture shock”. Beberapa karya seni pada suatu saat bisa terjual lebih tinggi tinimbang nilai naturalnya. Analoginya demikian, nilai intrinsik uang kertas tidak sebanding dengan nilai nominalnya, artinya sebagai kertas tidak ada harganya, tetapi setelah dicetak sedemikian rupa, maka bisa berharga 5.000,00 , 10.000,00 , atau bahkan 100.000,00 . Nilai intrinsik sebuah lukisan adalah kanvas dan cat yang dipakai tetapi setelah diolah sedemikian rupa bisa berharga 10.000.000,00. Dalam dunia perduitan karena perangkat pembuat nilainya telah tersusun dengan sangat baik, maka ketika Bank Indonesia menerbitkan uang model baru sekalipun, selama tercetak angka 10.000 maka berlakulah kertas itu sebagai alat tukar baru menggantikan yang lama. Tetapi bagaimana dengan karya seni? apakah perangkat pembuat nilainya sudah tersusun rapi? Selama tidak ada, maka yang berlaku adalah yang dominan. Artinya, bisa jadi banyak uang terbuang percuma karena tertipu.

MOTIF INDIVIDU dan PENGELOLAAN dalam DUNIA SENI RUPA
Satu hal yang harus diperhatikan bersama yaitu bahwa keberhasilan berbagai aktivitas di dalam suatu usaha dalam mencapai tujuan bukan hanya tergantung pada keunggulan teknologi, dana operasi yang tersedia, sarana atau prasarana yang dimiilki, melainkan juga tergantung pada aspek sumber daya manusianya. Dalam konteks pengelolaan dalam dunia seni rupa di Indonesia, motif individu yang berada dalam jaringan pengelolaan itu mempunyai peranan besar dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya itu. Biasanya bentuk motivasi yang paling mengedepan dalam suatu usaha adalah uang. Tujuan yang tidak jelas ditambah motivasi yang bersifat materialistik belaka adalah pasar ideal bagi para produsen.

HAL PENGELOLAAN DALAM SENI RUPA DI INDONESIA
Uraian saya pada dua lembar dimuka adalah abstraksi pola produksi konsumsi dan motif individual dalam hal memandang karya seni. Efek ekonomisnya logis, karena perdagangan marak, banyak seniman menjadi lebih sejahtera, dan berimbas pada jaringan produksi lain yang langsung berhubungan seperti: produksi kanvas, cat gambar dan teman-temannya, tukang pigura dan pembuat spanram, usaha pengepakan dan jasa pengiriman, dan yang tidak langsung berhubungan seperti penyedia jasa provider telepon seluler, jaringan TV nirkabel, dan saya. Secara geografis, klasik, seniman yang tinggal di pulau Jawa lebih menikmati kemakmuran ini. Atau seniman yang punya langkah strategis walau tidak tinggal di pulau Jawa, seperti Eddi Hara. Secara ekonomi langkah-langkah strategis seperti yang disusun oleh Eddi Hara perlu ditiru. Berpikir ekonomi sangat penting dalam konteks meraih hidup yang lebih baik secara ekonomi. Dan hak atas hidup yang lebih adalah hak semua orang. Seniman Indonesia di sudut manapun di Indonesia perlu membuat perencanaan strategis. Apa itu perencanaan strategis? Perencanaan strategis adalah perencanaan yang dibuat berdasar atas pembacaan isu-isu strategis. Isu strategis adalah hal/problem yang sedang mengemuka pada kurun waktu tertentu dan lokasi tertentu yang membawa dampak (sosial, politik, ekonomi, kebudayaan) besar pada kehidupan masyarakat dalam waktu tertentu dan lokasi tertentu tersebut. Konsep-konsep tersebut perlu dipikirkan kembali oleh setiap pihak yang berkepentingan terhadap isu-isu strategis itu.

Apakah perdagangan karya seni dalam kualitas seperti yang sedang terjadi saat ini merupakan isu strategis?
Dalam satu tahun terakhir ini inventasi yang telah ditanam sangat besar. Artinya investor yang telah menanamkan modalnya secara besar dalam perdagangan ini tentu ingin uangnya kembali. Implikasi positifnya proyek ini masih akan berlangsung lebih lama di Pulau Jawa. Selama menguntungkan (labanya positif), sebuah usaha akan terus dijalankan dan dikembangbiakkan. Motivasi yang ditawarkan proyek ini besar sekali, sehingga seniman-seniman baik yang telah menikmati imbalan ini akan terus berproduksi selama masih ada permintaan. Dilain pihak proyek ini memotivasi seniman pada lapis berikutnya untuk terlibat dalam rantai produksi. Secara sosial, berdasarkan pengalaman di Indonesia, usaha yang hanya melibatkan golongan masyarakat menengah ke atas secara ekonomi dalam rantai produksi dan konsumsinya, tanpa ada system nilai yang mendasari terbentuknya usaha itu, tidak akan berdampak apapun. Karena isu yang dikembangkan hanya akan berputar-putar dalam lingkaran tersebut. Contoh, usaha gelar Master, Doktor Honoris Causa, dan produksi fashion kelas tinggi. Dengan demikian dampak secara politis juga tidak ada. Usaha yang bisa berdampak politis tinggi misalnya air minum. Kemudian bagaimana melihat kebudayaan? Manusia memiliki kemampuan beradaptasi dengan setiap bentuk perubahan. Pertanyaannya: “ perubahan macam apa yang diakibatkan oleh praktek jual beli lukisan?” Kalau tidak ada ya tidak perlu repot-repot dipikirkan. Demikianlah, minimal dengan analisis sederhana seperti itu, isu perdagangan karya seni dalam kualitas seperti yang sedang terjadi saat ini tidak bisa disebut sebagai isu strategis. ***
Sumber: http://kedaikebun.com/?p=88

Categories: Artikel, Seni Rupa
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: