Home > Artikel, Seni Rupa > Negara dan Seni

Negara dan Seni

Oleh: Agung Kurniawan

grafis syaiful hadjar

Negara adalah sebuah elemen penting dalam dunia kesenian. Pemerintahan di Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam usaha untuk membentuk (secara langsung ataupun melalui campur tangan tidak langsung) sebuah dunia seni yang ideal berdasarkan apa yang mereka inginkan.

Mulai dari pasca pengakuan kedaulatan Belanda terhadap indonesia (1949) sampai dengan pemerintahan terbaru sekarang ini. Setiap pemerintahan memang mempunyai gradasi kepentingan terhadap kesenian. Pada pemerintahan awal (1950-an) yang kurang lebih menerapkan sebuah demokrasi liberal ala barat, pemerintah memberi subsidi kepada setiap seniman (terutama pelukis, pematung dan penari) setiap bulan. Iklim yang demokratis itu juga merangsang tumbuhnya sebuah kebebasan berekspresi yang sampai sekarang pun sulit dicari tandingannya.

Setelah ekperimentasi dengan demokrasi liberal, yang oleh angkatan darat disebut dengan kegagalan demokrasi barat, pemerintahan digantikan dengan sebuah bentuk pemerintahan yang fasistis dengan menempatkan sukarno (presiden pertama Indonesia) sebagai penguasa tunggal. Sukarno adalah seorang penggila seni yang sangat fanatik. Favoritnya tentu saja (seperti halnya para fasifis lainnya; Hitler, Musolini kecuali Suharto tentu saja) seni realis karena “kegilaannya” itulah sebagian seniman realis memperoleh banyak keuntungan finansial darinya; karyanya dikoleksi (meskipun seorang presiden, sukarno bukalah orang kaya sering kali ia harus membayar koleksinya secara mencicil), memperoleh kesempatan untuk mendapatkan proyek dan lain sebagainya.

Pada saat yang kurang lebih sejaman mulai muncul fenomena baru di dunia seni; seni digunakan sebagai media propaganda partai politik. Setelah “kemenangan sensasional” (sesungguhnya mereka hanya menempati urutan nomer tiga dibawah beberapa partai nasionalis dan partai Islam akan tetapi oleh para pengamat itu dianggap sebagai sebuah kemenangan setelah partai ini sempat dibreidel beberapa tahun sebelumnya) Partai komunis Indonesia pada Pemilu pertama (1955), yang antara lain karena menggunakannya seni sebagai media propaganda partai.

Setelah itu, hampir semua partai polititk menggunakan seni sebagai senjata penarik massa (cara yang kurang lebih sama juga digunakan sekarang oleh Partai Kedadilan Sejahtera, sebuah partai Islam yang banyak menggunakan seni Islam untuk merebut massa pemilih mereka). Secara perlahan tapi pasti peran negara yang pada awalnya menjadi patron penting (lewat bantuan per bulannya dan proyek monumennya) digantikan oleh peran patronase partai politik. Akan tetapi satu bagian yang kemudian hilang dalam fase ini adalah kebebasan berekspresi, seni menjadi sub ordinat kepentingan politik.

Setelah pembantaian komunis di tahuan 1965 (secara dramatik digambarkan pada beberapa tempat di Indonesia setiap tiga detik seorang manusia dibantai), kesenian yang menghamba pada partai hilang oleh karena partai politik di jadikan semata-mata sebagai simbol demokrasi. Peranan militer yang sangat kuat membuat kesenian yang hidup adalah seni yang apolitis, seni yang tidak perlu bicara tentang pembantaian 65 misalnya.

Seni rupa yang hidup waktu itu adalah seni non figuratif (abstrak ekspresionisme, dekorativisme, dan lain sebagainya), selain itu kiblat seni yang awalnya lebih kepada blok komunis beralih ke Amerika. Banyak pengajar yang dikirim belajar ke Amerika dan sebagian daripadanya berasal dari Institut Teknologi Bandung (sebuah akademi seni di bandung yang oleh seniman yogyakarta sering disebut sebagai labolatorium barat. Sebuatan ini sesungguhnya lebih berbau emosiaonal dibandingkan berdasarkan sebuah alasan yang logis). Proyek Amerikanisasi intelektual itu berimbas kepada tumbuhnya “kelas menengah” yang sangat barat atau katakanlah sangat amerika dalam gaya hidupnya. Akan tetapi secara ironis mereka kehilangan fungsi utama kelas menengah sebagai agent of change. Hanya seniman yang bekerja dengan selera yang ditentukan oleh negara saja yang bisa hidup waktu fasisme suharto (presiden Indonesia ke dua). Peranan negara menjadi sangat dominan, bisa dikatakan negara adalah bapak dan ibu dari kesenian. Konsekuensi sentralistik fasisme suharto adalah negara kemudian membangun sentra-sentra kesenian di propinsi-propinsi di Indonesia. Beberapa di antaranya mempunyai fasilitas nomer satu, akan tetapi oleh karena tujuan pembangunanya bukan untuk mensuport kesenian akan tetapi melakukan kontrol, maka infrastruktur itu tidak lah dilengkapi dengan human resources yang memadai dari segi kualitasnya. Sehingga yang terjadi kemudian adalah pemborosan luar biasa dan kemudian diikuti dengan rantai korupsi tak berkesudahan.

Pada fase ini negara, intelektual negara (yang sebagian besar mengajar di universitas negara) dan angkatan darat adalah trinitas suci di medan seni Indonesia. Syukurlah rezim yang menyeramkan ini akhirnya tumbang karena keserakahan mereka sendiri, akan tetapi sistem yang sudah mereka wariskan akan tetap bertahan ratusan tahun setelahnya selama tidak adanya suatu tindakan revolusioner untuk mengubahnya.

Saat sekarang ini sebagian seniman tidak hanya sibuk dengan membuat karya akan tetapi sebagian kecil di antara mereka juga sibuk dengan proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Oleh karena telah muncul ketidak percayaan terhadap bangunan lama (lembaga kesenian, sekolah seni, galeri negara) yang dikreasi oleh rezim Orde Baru. Kemunculan seniman yang aktif dalam pembangunan infrastruktur seni adalah sebuah alternatif untuk memecah kebuntuan. Misalnya saja dengan mendirikan galeri yang tidak birokratis dan pro pada seniman dan penonton seni, membuat sekolah-sekolah alternatif yang pro pada muridnya, membuat dan merancang pameran-pameran kritis dan lain sebagainya.

Kesenian menjadi lebih hidup dan berwarna, negara ditempatkan sebagai limp duck yang hanya bisa menonton sebuah perubahan dengan mata kosong.

Akan tetapi agenda selanjutnya yang harus dilakukan oleh aktifis seni adalah kemudian memberdayakan kembali negara, menguatkan negara dan sekaligus mengontrolnya untuk tidak berubah kembali menjadi monster. Negara yang lemah ternyata menumbuhkan kelompok militan yang mengatasnamakan agama, partai politik, dan kesukuan untuk mengambil alih peran negara dalam melakukan kontrol. Dalam kenyataannya mereka adalah sebuah copy dari kekerasan negara yang dalam beberapa segi ternyata bisa menjadi jauh lebih kejam.

“Tugas” para aktifis seni kemudian adalah menggunakan seni sebagai entry point untuk melihat masalah-masalah sosial, tidak hanya mengejar kesempurnaan artistik akan tetapi juga kesadaran sosial yang dipraktikan. Galeri yang sebelumnya adalah “budak” keindahan diubah menjadi sebuah labolatorium sosial di mana hal-hal genting bisa diskusikan tanpa harus peduli dengan norma, taboo, dan kontrol sosial. Dan negara hanya bisa berdiri di luar menunggu dengan cemas, tanpa perlu menjejakkan sepatunya satu inci pun ke lantai galeri.

Pemberdayaan negara bisa jadi bukanlah sebuah keputusan yang populer dan bisa jadi juga tidak mungkin, atau katakanlah sangat sulit dilakukan. Persoalannya adalah negara telah gagal menyiapkan birokratnya sebagai sebuah mesin yang efektif. Mentalitas birokrasi Indonesia adalah tuan yang lamban yang selalu minta dilayani dan bukan pelayan kepentingan publik. Mentalitas yang remuk akibat dari policy negara sebelumnya yang menempatkan birokrat sebagai kumpulan angka dan massa yang dapat dipakai sewaktu-waktu untuk kepentingan poltik negara. Sebagai contoh Taman budaya (Yogyakarta Art Council) dipenuhi oleh pegawai yang praktis tidak melakukan apa-apa, hanya sekitar 10 persen (atau bisa jadi 10 orang) dari sekian puluh pegawai yang bekerja dengan komitmen dan sungguh-sungguh.

Akan tetapi resiko ini saya kira haruslah tetap diambil, karena negara yang kuat dan demokratis adalah pelindung utama dari kaum minoritas dan seniman adalah salah satu kaum minoritas itu.

Saya kira mimpi itu akan segera terjadi selama tidak ada “tangan Tuhan“ yang mengganggu. ***

Dikutip dari : http://kedaikebun.com/?p=89

Categories: Artikel, Seni Rupa
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: