Home > Artikel > Trauma Masalalu Kelaparan

Trauma Masalalu Kelaparan

hunger
Dalam karya masterpiece-nya, The Psychopathology of Everyday Life (1901), Freud memastikan bahwa semua bentuk gangguan kejiwaan, bermula dari ketidakmampuan Ego dalam menjalankan fungsi integratifnya, di tengah-tengah tarikan Id dan Superego. Ketiga istilah tersebut merujuk pada sistem kepribadian yang bekerja secara koheren pada manusia “normal”.
Id adalah aparatus mental tertua yang secara dinamis mendikte Ego untuk pemenuhan insting dasar. Freud menyebutnya sebagai tabung semua jenis kekaguman dan trauma masa lalu. Sementara itu, Superego merupakan wewenang moral yang biasa merepresi insting dasar. Karena fungsi integratifnya, Ego selalu mengambil posisi di tengah-tengah antara pemenuhan insting dasar dan tarikan moral.

Susahnya, bila Ego berlarut-larut dalam tarikan moral, maka subyek akan lebur dalam ketaksadaran (unconciousness), tapi bila Ego larut dalam pelayanan insting dasar—termasuk kekaguman dan trauma masa lalu, maka subyek akan mengalami neurosis.

Mekanisme kejiwaan seperti paparan Freud diatas, cukup menjadi penjelas mengapa peledakan angka sakit jiwa dikorelasikan dengan tekanan hidup karena kenaikan semua bahan pokok. Pemenuhan insting dasar (makan, minum, dan kelayakan hidup) berubah menjadi represi. Ego lebur dalam pelayanan insting dasar, di tengah ketersedian material yang serba pas-pasan. Dalam situasi seperti inilah, kejiwaan menjadi limbung, dan subyek terjerembab dalam neurosis.

Dalam penjelasan ini, setiap orang berisiko mengalami neurosis, karena senyatanya masyarakat mengalami represi secara kolektif. Oleh karena itu Freud akan jauh lebih kontekstual bila digunakan untuk menjelaskan gejala kejiwaan masyarakat secara umum, di tengah melonjaknya harga bahan pokok akhir-akhir ini.

Bila Id tidak lain adalah semua kekaguman dan trauma masa lalu, maka semua memahami, kekaguman masa lalu kita sebagai masyarakat agraris adalah kekayaan alam yang melimpah. Meski begitu, trauma masa lalu kita ternyata tidak lain adalah kelaparan itu sendiri. Sejak masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru, hingga sekarang masyarakat senyatanya memang selalu dihantui oleh kelaparan.

Di masa penjajahan, kelaparan terjadi karena kekayaan alam yang dipindah ke Eropa, sementara di masa kemerdekaan sampai sekarang kelaparan terjadi karena kekayaan alam dikorupsi secara masal.
Ego masyarakat tidak mungkin melayani kekaguman dan trauma masa lalu tersebut. Menjadi makmur dan sejahtera, Ego masyarakat sudah tidak mengetahui jalannya, meskipun di sisi lain masyarakat juga tidak kuasa mengingat trauma kelaparan masa lalu.

Dalam posisi seperti inilah, ulasan ini membutuhkan penjelasan Jacques Lacan tentang bagaimana Ego menemukan resolusi atas situasi kejiwaan ini. Lacan menyebut relasi Id dan Ego sebagai mana digambarkan di atas, merupakan sebentuk imaji tentang ’keutuhan’, yang sebenarnya tidak pernah hadir dalam pengalaman subyek.
Sebagai tokoh yang merevisi gagasan Freud, Lacan berpendirian bahwa pengalaman kejiwaan subyek akan dilalui dengan menguatkan obsesi tentang keutuhan yang senyatanya selalu absen (Barker,1999).

Di level lebih makro, keutuhan yang dimaksud Lacan tersebut dapat ditemukan dalam semua bahasa konseptual yang dijanjikan oleh negara (dan dipercaya masyarakat) tentang kesejahteraan (welfare), pembangunan, kemakmuran dan pemerataan. ‘Keutuhan’ bahwa melimpahnya sumberdaya alam selalu berkorelasi dengan kesejahteraan. Sayangnya, keutuhan ini senyatanya tidak pernah hadir, justru trauma kelaparan yang selalu merepresi kesadaran masyarakat.

Bayangkan bila masyarakat menggelembungkan obsesinya tentang kesejahteraan hidup, di tengah bahaya kelaparan. Kejiwaan masyarakat akan mudah limbung, dan pada akhirnya mengalami neurosis.
Bukan tanpa alasan bila masyarakat menjadi histeris dan gampang membunuh. Di Jambi, seorang warga membunuh ketua RT-nya di saat pembagaian dana BLT. Di Indramayu, Kantor Kepala Desa dirusak secara masal oleh warga yang tidak kebagian kartu BLT. Masyarakat telah mengalami gangguan jiwa secara kolektif, justru karena kekaguman dan trauma masa lalunya.

Meskipun begitu, histeria bukanlah satu-satunya ekspresi gangguan jiwa. Ada juga yang berbentuk skizofrenia, phobia, atau bahkan mengeksklusi diri dari riuh rendahnya kekacauan hidup.
Rencanan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur melakukan studi banding ke luar negeri dengan total anggaran 5,5 Milyar, tentu saja bisa dibaca sebagai bentuk eksklusi diri dari riuh rendahnya jeritan masyarakat karena ancaman kelaparan. Padahal ini adalah ekspresi gangguan kejiwaan. Dengan begini, para anggota dewan itu bisa jadi mengalami gangguan kejiwaan yang sama seperti yang dialami masyarakat.

Dalam situasi krisis seperti ini, gangguan kejiwaan bisa mengambil ekspresi yang berbeda-beda, akan tetapi simpulnya tetap sama saja. Muasal semua bentuk gangguan kejiwaan tersebut adalah kekaguman atas melimpahnya sumberdaya alam dan trauma atas kelaparan di masa lalu.
Kesamaan simpul seperti inilah yang menjadikan Frantz Fanon meyakini bahwa semua model gangguan kejiwaan yang terjadi di negara bekas jajahan—semisal Indonesia, merupakan produk kolonialisme (Fanon, 2000). Pengalaman dalam represifitas penjajahan menstrukturisasi kejiwaan masyarakat dalam bentuk kepribadian terjajah, mental inlander.

Dalam konteks tertentu, struktur kepribadian yang dimaksud Fanon merujuk pada kedirian yang jengah. Orang selalu melakukan penegasan diri bahwa ia bisa satu level dengan Eropa. Ini juga yang menjelaskan mengapa para anggota dewan memaksa diri untuk tetap berangkat studi banding ke Eropa.
Dalam konteks lain, mental inlander juga merujuk pada makna apocalypse, sebuah kondisi haus darah dan hilangnya belas kasihan.

Akhol Firdaus adalah peneliti di Lembaga Pinggir Indonesia

Categories: Artikel
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: